Gunung Merapi, Pengalaman Pertama Menikmati Sunrise dan Sunset di Gunung

Setelah tahun lalu mendaki Gunung Merbabu ditemani pemandangan Gunung Merapi dan membatin bahwa suatu saat akan menyambangi juga Gunung Merapi, akhirnya pada bulan Juli 2017 kesempatan itu datang.  Salah satu sahabat yang sama-sama mempunyai keinginan memandang Gunung Merbabu dari Gunung Merapi pun mengajak saya untuk ikut open trip pendakian Gunung Merapi, dengan sedikit pertimbangan akhirnya saya pun mengiyakan.

Gunung Merapi merupakan salah satu gunung berapi yang terletak di Provinsi Jawa Tengah, memiliki ketinggian 2.930 Mdpl dan pesona yang terpancar cantik.  Erupsi terakhir yang masih saya ingat adalah di tahun 2010 yang memakan korban kuncen Gunung Merapi Mbah Marijan, dimana kita bisa menelurusi jejak dahsyatnya erupsi tahun 2010 melalui Lava Tour Merapi Yogyakarta.

Jam 10.40 WIB kami sampai di basecamp New Selo, beres-beres badan dan barang bawaan serta mengisi amunisi menjadi aktivitas kami di basecamp.  Setelah semua siap, guide kami mengumpulkan peserta open trip nya dan bersiap memberikan pengarahan dan berdoa agar pendakian ini selamat dan berkah sampe kami kembali turun lagi.  Oh iya, just info barangkali perlu referensi, pendakian Gunung Merbabu dan Gunung Merapi ini saya ikut open trip salah satu provider milik sahabat IDC @rrbrother.  11.16 WIB kami berangkat dari basecamp menuju Merapi ditemani teriknya matahari.  Pendakian kali ini kami berjumlah 10 orang, terdiri dari 4 orang wanita-wanita cantik (pastinya) dan 6 orang pria-pria ganteng (pastinya juga) hahaha.

Persiapan di Basecamp
Jalan beraspal dari basecamp
Jalan setapak berpaving block

15 menit pertama jalan yang dilalui dari basecamp adalah jalan raya beraspal, dengan kanan kiri adalah perkebunan sayur.  20 menit berikutnya merupakan jalan setapak berpaving block, di menit ke 35 kami beristirahat dulu sambil menunggu teman-teman lainnya.  10 menit kami beristirahat kemudian melanjutkan perjalanan lagi, jalan yang dilalui tanah basah sampai dengan Gerbang Gunung Merapi.  Gerbang Gunung Merapi? Iyaaaa, jadi dari basecamp menuju gerbang tersebut waktu yang kami tempuh 1 jam 20 menit.  Sempet membatin, ya ampun jalan selama itu ternyata baru akan mulai menanjak di gerbang ini, hehe.  Di gerbang selamat datang ini terdapat gazebo yang bisa kita gunakan untuk beristirahat, disini juga terdapat papan informasi ketinggian, letak gunung, jarak tempuh, serta perkiraan waktu menuju puncak Merapi.

Gerbang Gunung Merapi
Papan informasi di gerbang Gunung Merapi

Menurut informasi dari papan, melalui jalur New Selo ini ada 2 pos yang harus kami lalui dengan perkiraan waktu selama 1 jam 45 menit, rencanananya kami akan ngecamp di kawasan antara pos II dan Pasar Bubrah, jadi kalo saya hitung-hitung, saya butuh waktu sekitar 2 jam 15 menit lagi untuk sampai ke tempat ngecamp, oke gak terlalu lama lah ya, jadi semangat lagi nih buat lanjut nanjak.  12.47 WIB kami mulai perjalanan dari gerbang Gunung Merapi, perjalanan menuju Pos I masih didominasi oleh jalanan menanjak bertanah basah dengan pemandangan hijau sejauh mata memandang, dan setelah menempuh waktu 1 jam 8 menit akhirnya kami sampai Pos I Watu Belah, senangnya kalo udah ketemu pos, karena inilah saatnya beristirahat lama, minum, ngemil, foto-foto, hoho.

Perjalanan ke Pos I

14.18 WIB kami memulai lagi perjalanan menuju Pos II, dan inilah perjalanan lumayan berat menurut saya, karena jalan terus menanjak tanpa ada jalur datar dan dominasinya adalah batu-batu keras, kalo tidak berhati-hati tulang kering kaki kita bisa terantuk batu dan itu rasanya nyerrrriiiiii kawan 😀 😀 😀 (pengalaman keantuk batu beberapa kali).  Tangan juga mesti berhati-hati, ada beberapa spot dimana kita mesti memegang batu-batu itu untuk naik, matahari masih bersinar terang, jadi kami memilih berjalan lebih hati-hati walaupun agak lambat, biarlah ya toh masih banyak waktu, yang penting selamat sampe tempat ngecamp.

Perjalanan dari Pos I ke Pos II

15.54 WIB kami sampai di Pos II atau 1 jam 36 menit perjalanan (lebih lama 36 menit dari perkiraan), di Pos II ini kami beristirahat 10 menit dan kemudian lanjut ke tempat camp.  16.16 WIB kami sampai tempat camp, alhamdulillah akhirnyaaaa, tenda sudah didirikan oleh guide kece kami, jadi kami tinggal mengatur barang-barang kami di dalam tenda.  Sudah beres semua, dan kami baru sadar ternyata matahari masih terang menyinari kami, ya Allah ini kali pertama di gunung ngelihat sunset (khusus saya yang baru nanjak gunung-gunung dengan durasi ngecamp 1 malam).  Masya Allah indahnya, hangat padahal angin bertiup kencang, momen ini kami nikmati dengan memandangi sunset di atas samudera awan serta tidak lupa foto-foto, melihat sekitar dan puncak yang rencananya akan kami datangi esok pagi.  Kami meyakinkan lagi ke Mas Rudi (nama guide kami) “kita besok pagi ke atas sana kan?” *sambil menunjuk puncak, “kita lihat besok, kalo terang kita nanjak, kalo berkabut kita skip saja ya” jawabnya.  Menurut info yang didapat, sebenarnya kami tidak boleh sampai puncak, hanya sebatas Pasar Bubrah yang merupakan Pemancar Pengawas Gunung Merapi.  Makannya mesti lihat situasi dan kondisi jika hendak summit.

Sunset dari Gunung Merapi
Bulan yang mulai muncul di Gunung Merapi

Gunung Merbabu yang terlihat hijau ternyata menjadi pemandangan dari tempat camp kami di Merapi, jadi ingat tahun lalu kami melihat Merapi dari Puncak Merbabu, semoga bisa melihat Merbabu dari Puncak Merapi, Aamiin.  Masak, makan, ngobrol-ngobrol menjadi aktivitas kami menjelang tidur, hawa dingin mulai menusuk tubuh, saatnya mendekam dalam tenda dan beristirahat, agar besok pagi bisa bangun untuk summit.

03.00 WIB kami dibangunkan, kata Mas Rudi puncak cerah bebas dari kabut jadi kami bisa summit, alhamdulillah, segera kami siap-siap membawa tas kecil berisi minum, cemilan, senter, dan kamera.  03.23 kami mulai summit dan 30 menit kemudian kami telah sampai di Pasar Bubrah, oooo ini toh yang namanya Pasar Bubrah, padang luas gersang yang menyimpan banyak cerita mistis bagi beberapa orang yang ngecamp disini (untungnya kami gak ngecamp disini 😀 ).   Jalan dari Pasar Bubrah ke puncak didominasi pasir dan bebatuan, mesti hati-hati mencari pijakan, karena kalau salah kita bisa tergelincir atau bahkan menyebabkan batu meluncur ke bawah menimpa teman kita yang di bawah.  5.19 WIB kami akhirnya sampe puncak, semburat jingga sudah mewarnai langit pagi ini, selalu akan bilang, ini nih yang selalu bikin rindu gunung, udara dingin, fajar, jingga, awan, dan tatapan harap orang-orang akan datangnya sunrise.

Sunrise dari Gunung Merapi

Matahari sedikit demi sedikit menampakkan eloknya, membulat dan akhirnya memendarkan sinarnya yang semakin menghangatkan.  Orang-orang di puncak mulai menyiapkan kameranya, membidik setiap momen yang muncul, sampai akhirnya warna di langit berubah dari jingga menjadi biru dan silver, itu tandanya kami harus segera kembali ke bawah.  Oh iya alhamdulillah akhirnya saya bisa melihat Gunung Merbabu dari Puncak Merapi, keinginan tahun lalu yang terwujud, foto-foto? Pastinya ya :D.  Jalan dari puncak Merapi menuju Pasar Bubrah ternyata berbeda dengan saat kami dari Pasar Bubrah menuju summit,  pas turun jalanan didominasi pasir dan sedikit batu, jadi kita bisa berseluncur di atas pasir, yeeeee, main prosotan dan waktu yang digunakan pun lebih singkat.  Sesampainya di Pasar Bubrah, pemandangan tidak beranjak cantiknya, dari sini kita bisa melihat puncak Merapi yang gagah dan puncak Merbabu yang cantik, tidak lupa meninggalkan jejak disini dengan berfoto bersama dan selanjutnya kembali ke tenda untuk masak, makan, dan beres-beres serta pulang menuju basecamp.

Perosotan menuju Pasar Bubrah
Berfoto berlatar Puncak Merapi

3 jam perjalanan, saya sudah sampai lagi ke basecamp.  Beres-beres badan dan barang bawaan, makan, serta melanjutkan perjalanan ke Solo menjadi aktivitas kami selanjutnya.  Merapi memang tak pernah ingkar janji, tak pernah ingkar janji untuk memberikan keindahan bagi siapa saja yang memandang dan menyambanginya.  Gunung Merapi, Pengalaman Pertama Menikmati Sunrise dan Sunset di Gunung, a place to remember.

 by Ibhek