Museum Batik Danarhadi Solo, Menguak Sejarah Batik Nusantara

Museum Batik Danarhadi Solo, Menguak Sejarah Batik Nusantara – by Arum Silviani

Menguak salah satu warisan budaya dunia, sahabat inindonesiaku.com bisa mampir ke kota Solo. Cari tahu soal Museum Batik Danarhadi, dan silakan bangga sudah menjadi orang Indonesia. Museum Danarhadi ini terletak di pusat kota Solo, tepatnya di jalan Slamet Riyadi nomor 261 Surakarta. Lokasinya sangat mudah terjangkau, sehingga saya yakin, sahabat inindonesiaku takkan sulit menemukannya. Sekitar lima belas menit perjalanan naik becak dari Keraton Surakarta Hadiningrat, sampailah saya di depan sebuah bangunan yang anggun, bercat putih nan megah. Bahkan hanya dengan melihatnya dari luar, saya bisa merasakan kuatnya pesona bangunan ini. Tanpa buang waktu, saya bergegas masuk ke Gerai Batik Danarhadi. Sejenak saya bertanya-tanya, dimana gerangan museumnya?. Tak terlihat sama sekali. Hanya jajaran batik-batik cantik nan mewah yang terpajang apik dalam ruangan.

Resepsionis menyambut saya, memberitahu bahwa saya harus membeli tiket dahulu seharga 25 ribu rupiah. Selesai membayar, seorang pemandu mengajak masuk lebih dalam ke Gerai Batik Danarhadi. Kalau bisa dibilang,  pengalaman ini sungguh luar biasa, Di dalam museum terpampang ratusan koleksi batik yang mengundang decak kagum siapapun yang melihatnya. Sang pemandu juga memberi tahu, kalau museum ini merupakan milik pribadi keluarga Danarhadi, tak heran namanya sangat melekat di museum ini. Selanjutnya pemandu menerangkan soal asal-usul batik, satu persatu dari harta karun batik yang ada. Bisa dibilang ini kelas kuliah khusus soal batik. Mulai dari filosofinya, kemudian motif-motifnya dijelaskan dengan gamblang dan mudah dimengerti. Ada batik motif parang, batik tiga nagari, batik encim, batik sogan, dan masih banyak motif batik yang sulit untuk diingat namanya satu-persatu. Harganyapun rata-rata bisa mencapai puluhan sampai ratusan juta rupiah. Tak sedikit diantaranya tergolong batik yang langka. Sungguh, membuat saya makin cinta dengan Indonesia. Ini baru batik, belum songket, tenun ikat, tapis, ulos, dan kain-kain khas bagian Indonesia lainnya. Demi menjaga kelestarian batik di sini, mohon tidak mengambil gambar. Saya suka filosofi tidak boleh mengambil gambar di museum Danarhadi, agar bila hanya punya kesempatan sekali saja datang ke sini, pasti tidak ingat banyak hal yang didapat, dan harus bisa memutuskan untuk kembali ke tempat ini, atau bila banyak yang kau ingat, kau harus menanamnya di dalam hati dan pikiran dengan sangat lama, dan untuk menolak lupa, selanjutnya kalian harus bangga menceritakannya dengan banyak orang lagi.  Museum Batik Danarhadi Solo, Menguak Sejarah Batik Nusantara.

Mungkin awalnya, sahabat inindonesiaku akan merasa tiket masuk ke museum ini cukup mahal. Namun, dengan kandungan pengetahuan standard desertasi dan pengalaman yang didapat, uang bukanlah soal yang penting.  Kemasan lengkap disuguhkan oleh museum Danarhadi, hal ini juga tak lepas dari peranan para pemandu yang cerdas. Bahasanya mudah dicerna, menerangkannya sangat sistematis dan terperinci, dengan sikap dan pembawaan layaknya pelayanan di hotel berbintang lima. Dari pemandu saya, diketahui kalau seluruh pegawai dan staf Danarhadi yang bekerja di outlet Danarhadi Solo, minimal lulusan kuliah S1 dan mahir berbahasa Inggris. Hal ini memang sudah jadi syarat dan ketentuan wajib jika ingin menjadi pegawai di Danarhadi. Alasannya, supaya mereka bisa menerangkan tentang Batik ke wisatawan domestik maupun mancanegara. Untuk dapat mendorong eksistensi budaya negeri, memang harus mampu menyampaikan pada dunia melalui penguasaan bahasa. Mampir ke Solo dengan suka hati, jangan lupa mampir ke Museum Danarhadi. Museum Batik Danarhadi Solo, Menguak Sejarah Batik Nusantara, A place to remember.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

Comments

comments