Nusa Penida Bali, Menapaki Mata Air Guyangan

Nusa Penida Bali, Menapaki Mata Air Guyangan

Keinginan besar untuk mendatangi satu tempat yang berada di Pulau Penida, akhirnya terwujud. Dari jauh jauh hari saya sudah mulai mencari informasi tentang suatu daerah yang belum banyak dikunjungi oleh para pejalan. Hanya segelintir orang yang mengetahui tempat ini. Tepatnya hanya para pejalan spiritual yang berkunjung kesini. Namanya  Mata Air Guyangan, sebuah tempat yang berada di Nusa Penida daerah Batu Kandik. Tempat ini lebih dikenal dengan nama “Guyangan Waterfall”. Nama yang terbentuk dari para pejalan luar (tourist). Sebenarnya di tempat ini tidak ada waterfall/air terjun yang seperti dikirakan. Tidak seperti air terjun yang biasa sahabat IDC jumpai. Air yang keluar dari dalam tebing dan bermuara ke laut selatan.

Sedikit asal muasal dari mata air Guyangan. Awalnya mata air ini adalah sumber air bersih untuk warga sekitar. Seiring dengan waktu berjalan tempat ini dijadikan sebagai salah satu objek wisata. Namun masih sedikit yang mengetahui. Tempat yang berada di tebing pinggir laut memberikan nuansa hening dengan suara mata air guyangan. Dulu para warga boleh berenang dan sekedar berendam di tempat ini namun sekarang tidak diperbolehkan lagi karena area itu sudah dijadikan tempat suci.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya banyak para pejalan spiritual yang datang ke tempat ini. Hal ini dikarenakan, di tempat ini terdapat Pura yang dibangun di bawah tebing yang terjal dan menghadap ke lautan lepas. Para umat Hindu yang berkeinginan untuk beribadah (sembahyang) dan membersihkan diri, akan datang ke tempat ini. Bagi masyarakat setempat lebih mengenal tempat ini dengan sebutan “Pura Segara Ratu Kidul”. Di tempat ini lah tempatnya Ratu Kidul berstana. Untuk menuju ke Pura, kita harus melewati ratusan anak tangga. Kurang lebih sekitar 782 units anak tangga yang harus kita lalui. Anak tangga yang terbuat dari besi dengan ukuran kecil dan curam.

Waktu itu memulai perjalanan dari Pantai Sanur, dengan membeli tiket penyebrangan di loket yang letaknya dekat dengan rumah makan Mak Beng Sanur. Saya memilih memakai boat “IDOLA” dengan tarif Rp. 75.000 sekali jalan. Ukuran boat yang besar dan nyaman untuk ditumpangi. Sesampainya di Nusa Penida, saya langsung menyewa sepeda motor di dermaga “Sampalan”. Tarif motor untuk satu hari Rp. 50.000. Tak berlama-lama di dermaga saya menuju ke penginapan untuk meletakkan barang bawaan, lalu menuju ke rumah teman untuk mengambil sesajen/banten (sebutan di Bali).

Tangga terbuat dari besi di pinggir tebing

Pintu masuk

Perjalanan dari daerah Puncak Mundi menuju Batu Kandik menghabiskan waktu kurang lebih 45 menit. Kini jalan di pulau Penida sudah jauh lebih baik dari 2 tahun yang lalu, pertama kali saya kesana. Beberapa jalan yang sudah diaspal hotmix dan beberapa lagi sedang dalam proses perbaikan. Dengan kecepatan 60 km/jam motor matic melaju kencang dengan mengandalkan GPS warga lokal, akhirnya saya sampai di tempat tujuan hanya dengan waktu 30 menit. Sampainya di Guyangan saya sedikit bingung karena tidak ada orang disana. Berselang beberapa menit, saya bertemu dengan bapak penjaga. Saya bertanya kepada bapak itu, kenapa tidak ada warga yang datang untuk berdoa dan melakukan pembersihan (pemelukatan). Si Bapak bilang kalau saya sampainya kepagian. Biasanya orang-orang (Pemedek) yang tujuannya beribadah datang agak siangan. Kemudian saya bertanya sesiang apa biasanya orang berdatangan. Namun sayang, bapak itu tidak bisa menjawab. Bapak penjaga kemudian menyarankan saya untuk menghubungi Jero Mangku (dalam bahasa Bali) /pendeta. Jero Mangku dalam agama Hindu di Bali merupakan seseorang yang menuntun berlangsungnya upacara. Dengan mantram mantram yang dipanjatkan oleh Jero Mangku/pendeta ini memudahkan para umat untuk berdoa. Namun sayang signal disana tidak bagus jadi saya kesulitan untuk menghubungi. Tak berselang lama sambil mencari-cari signal datanglah satu pasang muda mudi/pemedek (dalam bahasa Bali) yang juga memiliki keinginan sama dengan saya untuk beribadah/sembahyang. Langsung saja saya suruh Bli (sebutan laki laki dalam bahasa Bali) itu untuk menghubungi Jero mangku/pendeta.  Akhirnya berhasil dihubungi, namun Jero mangku/pendeta itu berhalangan hadir.

Tempat pembersihan pertama dari arah kanan ke kiri (merah, putih, hitam)

Proses persembahyangan sebelum pembersihan diri yang kedua

Pasangan tersebut mengurungkan niatnya untuk turun bersama saya dan satu pasang bule dengan guidenya ke bawah. Alasan mereka mengurungkan niatnya karena tidak ada yang bisa menuntun mereka ketika upacara berlangsung. Saya berusaha mengingatkan mereka untuk tidak mengurungkan niatnya. Karena tinggal sedikit lagi mereka bisa berdoa ditempat ratu kidul. Saya pun melanjutkan perjalanan kebawah dengan menuruni ratusan tangga yang dituntun oleh si Bapak guide dengan bulenya. Walaupun tanpa Jero Mangku/pendeta, niat baik harus dilanjutkan. Perjalanan menuruni tangga yang terjal dan kecil di pinggir tebing yang curam membuat lutut sedikit gemetaran. Namun, setelah melewati beberapa anak tangga, saya menikmati pemandangan yang luar biasa indahnya.  Panas teriknya matahari tidak terasa dikalahkan oleh suara deburan ombak yang berwarna biru. Selama 30 menit lamanya saya menghabiskan waktu menuruni tangga. Ketika sampai di bawah tebing, rasa senang yang tak ternilai. Akhirnya saya bisa melalui ratusan tangga.

Pembersihan diri (melukat tahap kedua)

Proses persembahyangan setelah pembersihan diri

Tak lama kemudian saya melihat pasangan tadi, tak jadi mengurungkan niatnya untuk beribadah bersama. Selain itu berselang beberapa menit tiba tiba Jero Mangku/pendeta sudah sampai juga dibawah. Memang niat baik akan selalu dituntun dengan hal yang baik pula. Senang sekali, akhirnya upacara yang kami lakukan berlangsung dengan baik dan sempurna. Sebelum upacara dimulai, kami dituntun untuk berdoa dan membersihkan diri di gerbang sebelum memasuki tempat suci. Kemudian, dilanjutkan untuk pembersihan kedua dengan berdoa dengan sarana “canang sari” setelah itu kami membersihkan diri dengan mengguyur semua badan kami dengan air suci. Setelah selesai melakukan pembersihan yang kedua, kami memulai per-sembahyangan dengan mempersembahkan/menghaturkan “banten pejati”(dalam bahasa Bali). Pagi pejalan yang tujuannya hanya untuk menikmati alam Guyangan, terdapat tempat pemandian yang dikhususkan bagi wisatawan. Namun mohon dicatat bagi siapa saja yang mengunjungi tempat suci di Bali daerah manapun, agar tidak memasuki areal suci jika dalam keadaan kotor “cuntaka”  (Datang bulan bagi kaum wanita/ada kerabat yang meninggal). Hal ini wajib dilakukan bagi siapa saja agar kesucian tempat tetap terjaga dan kita terhindar dari hal hal yang tidak diinginkan.

Setelah proses upacara/ibadah selesai dilakukan saya sejenak menikmati alam peguyangan. Pengabadikannya dalam bentuk foto dan video. Dalam benak saya bersyukur masih bisa melalui jalanan terjal untuk sebuah keindahan alam yang luar biasa cantiknya.  Nusa Penida Bali, Menapaki Mata Air Guyangan a place to remember.

by Novi Ani

Tempat pemandian khalayak umum

View dari atas tebing

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

Comments

comments