Prosesi Duata, Ritual Adat Suku Bajo

Prosesi Duata, Ritual Adat Suku Bajo - by @Wakatobidive

Sahabat inindonesiaku.com, Wakatobi bukan sekedar surga bawah laut dan pemandangan alam tak terlupakan di bagian daratnya. Wakatobi punya kekayaan sumberdaya manusia yang sangat menghargai alam dan bangga dengan kesederhanaannya dalam berkehidupan sehari-hari, padahal mereka memiliki kekayaan tak ternilai, yaitu menjadi warga asli pemilik keindahan Wakatobi.  Suku Bajo, tersebar di sejumlah wilayah komunal di Wakatobi. Bajo Mola menjadi penjaga keseimbangan alam di Wangi-Wangi, Bajo Sampela, Lohoa dan Mantigola memeluk Pulau Kaledupa dengan keseharian adat yang kental, dan Bajo Lamanggau penakluk alam dari Pulau Tomia. Dalam sejarah masa lampau kehidupan komunitas Bajo ini selalu berpindah dari satu tempat ketempat lain. Sehingga Suku Bajo bisa hampir pasti dapat selalu ditemukan pada semua negara yang memiliki pesisir pantai.

Berubahnya jaman dan perilaku iklim yang tak sebersahaja dulu, bukan berarti dapat melunturkan kebudayaan masyarakat Bajo. Salah satu wujud budaya yang hingga saat ini masih dipegang kuat adalah Prosesi Duata. Dalam pelaksanan berbagai hajatan di kabupaten Wakatobi prosesi ini juga sering ditampilkan untuk menyambut seluruh sahabat Inindonesiaku untuk berkumpul layaknya keluarga di Wakatobi. Prosesi Duata, Ritual Adat Suku Bajo.

Duata adalah saduran dari kata Dewata. Dalam keyakinan masyarakat Bajo, Duata adalah dewa yang turun dari langit dan menjelma dalam kehidupan manusia. Tradisi Duata adalah puncak dari segala upaya pengobatan tradisional suku Bajo. Duata berlangsung jika ada salah satu diantara kerabat suku mengalami sakit keras dan tak lagi dapat disembuhkan dengan cara lain termasuk pengobatan medis. Dalam prosesi duata yang digelar pada pelaksanaan Festival Budaya Wakatobi, sejumlah tetua adat sengaja menyempatkan waktunya berkumpul dalam suasana pengobatan. Terbentuklah satu ruangan dengan ukuran sekitar 2 meter persegi. Dihiasi dengan janur kuning di bagian atasnya, meski tanpa pagar. Ada pula Ula-Ula, bendera yang merupakan lambang kebesaran suku Bajo yang diyakini membawa keberkahan.

Prosesi Duata Suku Bajo 2

Tetua adat yang didominasi perempuan lanjut usia meramu berbagai jenis pelengkap ritual. Ada beras berwarna warni yang dibentuk melingkar di atas daun pisang. Ini melambangkan warna-warni sifat yang di miliki manusia. Ada pula pembakaran dupa untuk mengharumkan sekitar pelaksanan kegiatan, daun sirih, kelapa dan pisang. Setelah semua bahan teracik sesuai dengan kebiasaan sebelumnya, orang yang akan diobati digiring menuju laut. Sepanjang perjalanan lagu Lilligo tak pernah putus dinyanyikan. Demikian dengan tabuhan gendang. Dibarisan terdepan berjajar delapan orang gadis cantik berpakaian adat tak berhenti menggerakkan badan dan menggetarkan hatinya sambil menari Ngigal.

Di atas perahu semua peserta juga harus menari Ngigal untuk menyemangati orang yang sakit agar kembali menemukan semangat hidupnya. Sementara tetua adat melakukan prosesi larungan. Prosesi Duata juga melibatkan pisang dan beberapa perlengkapan tidur, baik berupa bantal dan tikar. Menurut cerita prosesi ini dilakukan untuk memberi makan saudara kembar si sakit yang berada di laut. Dalam kehidupan masyarakat Bajo, mereka percaya, bahwa setiap kelahiran anak pasti bersama kembaran yang langsung hidup di laut. Sehingga jika salah satu diantara mereka menderita sakit keras, sebagian semangat hidup orang itu telah diambil oleh saudara kembarnya yang disebut Kakak untuk dibawa menemaninya ke laut, dan sebagian lagi menjadi pendamping dewa untuk mengarungi langit ke tujuh.

Usai pelarungan, orang sakit dan tetua adat kembali ke tempat semula. Orang yang sakit akan kembali melalui beberapa prosesi pengobatan seperti mandi dengan bunga pinang atau di sini terkenal dengan nama mayah. Proses ini berguna untuk membersihkan penyakit yang ada dalam tubuh dan mengusir roh jahat. Selain itu, tetua adat juga akan mengikatkan benang di lengan yang sakit, konon benang ini berasal dari langit ketujuh yang dibawa turun oleh tujuh bidadari sebagai obat. Dari benang yang sebelumnya tersimpan dalam cangkir, tetua adat dapat mengetahui apakah yang sakit ini masih dapat sembuh atau tidak.

Untuk menguji kesembuhan, salah satu tetua adat akan menancapkan keris tepat diatas ubun-ubun orang yang sedang dalam pengobatan. Selanjutnya orang sakit tersebut di putari sebanyak beberapa kali oleh tetua adat sambil membawa keris yang terhunus. Kekuatan mental langsung diuji seketika itu juga. Pengujian kesembuhan ini juga dilakukan dengan cara mengadu dua ekor ayam jantan. Jika ayam si sakit menang maka itu berarti si sakit telah sembuh. Selanjutnya si sakit akan menghambur-hamburkan beras sebagai wujud kegembiraan, karena telah terbebas dari penyakit yang dideritanya. Sementara keluarga dan sanak saudara bersorak dengan meriah merayakan kesembuhan si sakit.

Seorang warga Mola mengatakan, dalam kehidupan masyarakat Bajo pelaksanaan tradisi Duata tidak terbatas pada prosesi pengobatan tetapi juga dapat dilakukan dalam acara syukuran dan hajatan. Tradisi ini juga dilakukan untuk memberikan penghargaan pada penguasa laut yang mereka sebut sebagai Mbo Janggo atau Mbi Gulli. Orang Bajo berharap, kekayaan tradisi yang dimilikinya dapat semakin menambah kekayaan budaya di Wakatobi. Sehingga Wakatobi makin mengukuhkan dirinya sebagai Daerah Surga Nyata baik di darat dan lautnya, juga sebagai kawasan pusat segitiga karang dunia. Menjadi bagian Prosesi Duata, Ritual Adat Suku Bajo, benar-benar a place to remember.

Incoming search terms:

  • adat istiadat suku bajo
  • bagaimana tradisi suku bajo
  • budaya pembakaran dupa di flores
  • duata
  • makna ritual patoba pada masyarakat bajo
  • pengertian adat duata suku bajo wakatobi
  • prosesi duata adat istiadat suku bajo
  • tradisi adat istiadatnya suku bajo
  • upacara adat suku bajo

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

Comments

comments

4 Comments on “Prosesi Duata, Ritual Adat Suku Bajo

  1. I just want to mention I am just new to blogs and definitely liked this page. Most likely I’m likely to bookmark your site . You absolutely have superb posts. Thanks a lot for sharing with us your website.

  2. Pingback: Prosesi Duata, Ritual Adat Suku Bajo - Usum News

  3. Pingback: Google