Sahabat IDC, Berjumpa Negeri Diatas Awan – Waerebo

Sahabat IDC, Berjumpa Negeri Diatas Awan – Waerebo

Setelah tiga hari menjelajahi lukisan sempurna Tuhan di Bumi Flores – Labuan Bajo, sahabat IDC melanjutkan perjalanan ke Negeri diatas awan – Waerebo.

Tepatnya Sabtu, 14 April 2018 tujuh belas sahabat IDC beserta team @komodovacation jam 5.45 WITA kami meluncur menuju Waerebo. Butuh waktu enam jam lebih dengan menggunakan elf menuju kaki bukit dimana desa Waerebo berada.

Menuju pos pertama

Malam sebelumnya saat di Labuan Bajo kami sudah sepakat untuk menuju ke pos pertama menggunakan jasa ojek, namun saat sampai disana jasa ojek sudah naik menjadi Rp.40.000,- sekali antar dengan informasi sebelumnya Rp.15.000,- , segala pertimbangan akhirnya kami memutuskan untuk menuju pos pertama dengan jalan kaki.

Semangat kami memang tinggi namun ketika bertemu tanjakan pertama nafas kami langsung terkejut, karena tanjakan pertama sudah menggunakan gigi satu alias tanjakan pertama cukup tajam. Seperti biasa sahabat IDC dengan segala polahnya membuat beban itu menjadi ringan.

Sebagian dari kami memang ditakdirkan menjadi orang-orang yang memberi sukacita untuk yang lainnya alias ngelawak, tentu dengan hati yang riang tanjakan yang cukup menguras nafas terasa cukup ringan. Namun jika boleh kusarankan, untuk sahabat yang lainnya jika berkunjung kesana, simpanlah tenagamu dan naiklah ojek.

Karena jujur saja, perjalanan kaki menuju pos pertama cukup menguras tenaga, akhirnya dengan langkah yang cukup pelan kami sampai juga di pos pertama. Aku tersenyum manis saat sampai disana, pos pertama dengan ramahnya menyediakan aliran sungai jernih dimana lelah menghampiri saat melangkah tadi terobati dengan basuhan air jernihnya.

Bahkan diantara kami sempat meminum langsung dan mengisi botol untuk jadikan persediaan dalam perjalanan selanjutnya. Sebelum melangkah ke pos dua, sahabat yang Muslim menyempatkan diri untuk sholat dulu dan setelah itu mengabadikan diri bersama.

Menuju Pos dua

Jika perjalanan ke pos satu jalannya sudah aspal maka langkah menuju pos dua sudah menapaki jalan setapak dan ditemani pohon-pohon. Langkah kami tidak lah sama karena selain usia memang tidak sama diantara kami ada yang sudah lelah dalam menjelajahi Labuan Bajo sebelumnya.

Selain itu ada sahabat yang mengalami cedera saat perjalanan di bukit Gili Lawa. Memang kesepakatan sebelumnya untuk tidak berjauhan dalam perjalanan,  kami juga  punya karakter yang selalu mensupport satu sama lainnya. Maka saat sebagian dari kami kecepatan langkahnya lebih dulu, dengan manisnya mereka menunggu  kami yang masih tertinggal.

Sehingga antara satu sama lain tidak tertinggal jauh. Aku sendiri memang tidak tetap dalam langkah, kadang bisa diawal, kadang di tengah bahkan kadang dibelakang, tidak jarang aku melangkah sendiri karena memang aku lagi menikmati kesendirian dalam langkah sambil memandang pohon-pohon sekedar menyapa. Permisi kami lewat dan ijinkan nanti kami kembali dengan selamat.

Hingga diantara kami sudah sampai di pos dua, ada sebagian sahabat yang tertinggal jauh hingga kami menunggu cukup lama. Aku sendiri cukup khawatir karena menunggu lama takut ada kejadian yang diluar kehendak.

Benar saja ada sahabat yang sedikit cedera dalam perjalanan dan membuat perjalanan agak melambat. Begitu terharu buatku karena disanalah aku melihat bagaimana pribadi sahabat yang ada. Satu dengan lainnya saling support, tidak mengikuti ego untuk sampai lebih dulu.

Hallo desa Negeri di atas awan – Waerebo

Dengan segala perjuangan akhirnya kami di desa Waerebo dengan menempuh waktu empat setengah jam perjalanan yang kesemua jalannya hampir semua menanjak.  Sampai di desa kami disambut oleh kepala Suku, sebelum mengambil foto atau berinteraksi dengan penduduk setempat, kepala suku memberi petuah yang sebelumnya melakukan sedikit adat seperti berdoa ke leluhur mereka.

Menyampaikan bahwa kami tamu yang akan menginap dan ijinkan kami untuk melakukan aktifitas disana. Setelah itu kami diantar ke tempat penginap. Keberuntungan berpihak pada kami kalau tempat kami menginap satu rumah itu hanya kami saja, sedangkan sebelumnya diinformasikan bahwa satu rumah bisa ada beberapa kelompok tamu.

Benar saja ketika waktu makan malam kami ke rumah yang tersedia makanan, disana terdapat beberapa kelompok tamu dijadikan satu.

Yang menjadi kenangan yang tak terlupakan buat kami adalah saat makan ada menu yaitu sambal, dimana saat itu kami rebutan, ah sambal itu begitu nikmat, entah memang  sedang lapar karena dingin serta perjalanan yang jauh atau memang nikmat itu saat makan bersama-sama dengan segala kesederhanaannya disertai canda yang begitu tulus.

Setelah menikmati hidangan kami kembali ke rumah dimana menginap dan jam sepuluh malam listrikpun padam mengantarkan kami dalam lelapnya malam.

Foto bersama setibanya di Waerebo

Selamat Pagi Semesta

Pagi menjemput, aku dengan beberapa kawan yang sudah terbangun melangkahkan kaki keluar rumah tanpa mencuci muka terlebih dulu, niat hati mau melihat matahari terbit namun apa daya matahari itu tertutup bukit dan awan.

Kami menikmati pagi dimana ada satu tempat dimana bisa mengabadikan diri dengan tujuh rumah yang menjadi ikon desa Waerebo tersebut. Sebagian dari kami akhirnya menyusul dan cukup lama disana mengambil gambar dengan segala pose yang ada.

Waktu menggiring kami untuk kembali ke rumah dimana ditunggu untuk sarapan bersama. Menjadi tambah kenangan dimana ada satu sahabat menghilang dari pandanganku dan aku mencari, cukup lama mencari kesana kesini ternyata dia berkutat di dapur mencari resep sambal yang menggiurkan itu.

Ah lincah memang sahabat kami yang satu itu…

Sambil menunggu hidangan lengkap, ada satu moment dimana kami berfoto-foto dengan cahaya yang lewat dari jendela, moment itu begitu indah. Tentu menjadi aktifitas menunggu yang menyenangkan. Bergantian berfoto hingga makanan tersedia.

Makan pagi saat itu terasa nikmatnya kembali, aku masih membayangkan bahagiaku pada saat itu dalam kesederhanaan kutemukan kekuatan sebuah kebahagiaan.

Pagi hari di Waerebo

Selamat Tinggal Waerebo

Kembali waktu mengingatkan  untuk segera melangkah, memaksa diri untuk meninggalkan kesederhaaan desa dengan segala kekuatannya.

Namun sebelum itu kami menyempatkan diri bercengkrama dengan anak-anak disana serta penduduk yang ada. Hingga tiba saatnya kami harus pamit. Menjadi goresan yang tidak bisa aku lupakan saat itu adalah dimana ketua adat menyanyikan satu lagu.

“ Teringat Masa yang t’lah berlalu

Kita s’mua sekalian bergurau

S’bentar lagi Kita terus cerai

Ke S’luruh pelosok nusa kita

 

Bila kah Kita bertemu-an

Rasa asing sunyi dan terpencil

Gunung jurang lembah hijau jernih

Yang menghiburkan hati duka “

Aku sendiri menahan air mata saat mendengarnya. Sebelum meninggalkan kupeluk dan dia membisikan sesuatu ditelingaku yang membuat hati ini bergetar. Aku semakin terharu dan kutegakkan langkah kaki ini meninggalkannya.

Tak bisa aku berpaling lagi saat melangkah menjauh, aku sebagai orang terakhir meninggalkan desa itu, antara mendapatkan kekuatan yang tak bisa diungkapkan dengan terharunya hati harus meninggalkan desa itu dengan ketua adatnya yang sudah berusia cukup.

Entah jika semesta berkehendak apakah nanti aku bisa kembali ke desa itu bisa bertemu dengannya lagi aku tidak,  entahlah.. Yang pasti apa yang telah dia pesankan akan menjadi kekuatan langkahku selanjutnya dalam hidup.

Aku melangkah sedikit berlari menyusul yang lain dan mereka begitu semangat melangkah, hingga akhirnya sampai di pos satu hanya dengan jarak tiga jam saja. Lebih cepat satu setengah jam dari perjalanan berangkat.

Tentu dengan pengalaman sebelumnya sebagian dari kami menggunakan jasa ojek untuk kembali ke kaki bukit dan sebagian dari kami tetap melangkahkan kaki dengan tegapnya.

Hingga sampai di Elf yang menanti,   berterima kasih untuk semuanya kembali dengan selamat. Selanjutnya tepat di jam makan siang, kami istirahat makan dekat kaki bukit Waerebo dan setelah itu melanjutkan menuju kota Labuan Bajo.

Terima kasih Waerebo, Terima kasih untuk kesederhanaanmu yang memberi banyak arti dan pelajaran, dalam menujumu bahkan dalam kembalinya.

Semoga sahabat IDC yang lainnya bisa berjumpa denganmu dikemudian hari.  Sahabat IDC, Berjumpa Negeri Diatas Awan – Waerebo a place to remember.

by Nik

Bersama anak Waerebo

Comments

comments