Takabonerate, Surga di Atol Terbesar Ketiga Dunia

Takabonerate, Surga di Atol Terbesar Ketiga Dunia – by Arnisabuya

Indonesia memang tersohor dengan pemandangan bawah air yang menakjubkan. Ayo sebutkan tempat favorit sahabat inindonesiaku.com bila menikmati kehidupan bawah air, dimana saja? Komodo? Raja Ampat? Atau Wakatobi? Ini jawaban yang terlalu mainstream, pernah mendengar Taman Nasional Takabonerate? Mungkin masih asing terdengar atau hanya sebagian kecil orang tahu. “Ini ada dimana sih? Jauh gak? Pasti mahal deh ke sana”. Nope, tak sesusah, tak sejauh dan tak mahal untuk ke sini.

Taman Nasional Takabonerate ini terletak di Sulawesi Selatan dan berbatasan juga dengan Laut Flores. Taman Nasional Takabonerate ini merupakan atol terbesar ketiga di dunia setelah Kwajifen di Kepulauan Marshall dan Suvadiva di Kepulauan Maladewa. Trus atol itu apa sih? Atol itu adalah pulau karang yang biasanya berbentuk cincin dan di bagian tengahnya berbentuk cekungan yang telah terisi oleh air laut, dan dijamin pasti dikelilingi oleh terumbu karang yang sangat indah. Tak heran jika kawasan ini dijadikan sebagai salah satu Taman Nasional di Indonesia karena memiliki biodiversitas biota dan terumbu karang yang sangat tinggi serta beragam.

Bagi anda yang suka tantangan dan penikmat kehidupan bawah laut, sangat cocok berkunjung ke Takabonerate. Karena Takabonerate memiliki 21 gugusan pulau yang menantikan untuk kita jelajahi. Dari 21 pulau, hanya tujuh pulau saja yang memiliki status “berpenghuni” dan 14 lainnya merupakan pulau-pulau cantik yang tidak berpenghuni. Untuk menjelajahi kepulauan ini bisa dengan menggunakan kapal kayu, sensasi gelombang laut dan hamparan lautan mewarnai perjalanan menjelajahi gugusan pulau-pulau itu. Perjalanan untuk menuju salah satu surga bawah laut ini bisa dibilang susah-susah gampang. Susahnya mungkin jarak tempuh yang panjang dan gampangnya adalah sudah banyak alat transportasi menuju kawasan ini.  Kalau ditanya bisa backpackeran ke sana? Jawabannya bisa, tapi kalau ditanya bisa pergi sendiri ke sana? Jawabannya mending rame-rame deh.

Kebetulan perjalanan saya kesana gabung dengan Indonesia Community (IDC), sebuah komunitas yang menyebarkan kecintaan akan kekayaan alam Indonesia. Dengan 15 orang lainnya, saya memulai perjalanan ini dengan meeting point di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

Perjalanan menuju Takabonerate

Nah, bagaimana rute perjalanan untuk sampai ke Takabonerate? Dari Bandara Makassar kami melanjutkan perjalanan darat menggunakan mobil yang sudah disewa ke arah Pelabuhan Bulukumba – Tanjung Bira selama 6 jam lalu dilanjutkan dengan menggunakan kapal Ferry menuju Selayar selama 2 jam. Jadwal keberangkatan kapal ferry ini dalam sehari hanya ada 2 jadwal yaitu pagi dan siang hari.  Kalau sampai di Pelabuhan Bulukumba kapalnya belum jalan, sempatkan waktu untuk mengambil foto di sini karena memiliki pemandangan yang sangat bagus sekali.

Tiba di Pelabuhan Pamatata – Selayar kami melanjutkan perjalanan menggunakan mobil ke pusat kota Benteng ± 1.5 jam. Selama perjalanan akan puas banget liat pantai-pantai di Selayar, dari Benteng kami pun langsung menuju penginapan kami yaitu Pondok Jepun. Kami memutuskan untuk semalam di Selayar agar kami bisa menikmati indahnya Selayar.

Senja mulai tiba dan kami dengan asiknya menikmati pemandangan bawah laut Selayar dengan snorkeling. Spot snorkeling tak jauh dari pantai Liang Kereta, jadi ketika sudah mulai lelah bermain air kita bisa duduk santai menikmati sunset di Pantai Liang Kereta ini.

Pagi harinya perjalanan dilanjutkan lagi dengan 1 jam dari Pondok Jepun menuju Pelabuhan Pattumbukan. Disinilah kapal kayu siap membawa kita memasuki kawasan Takabonerate. Nah ini nih yang saya bilang lebih disarankan untuk pergi rame-rame jangan sendiri karena untuk kapal kayu di sini masih sistem sewa, belum ada kapal publiknya kesana. Perjalanan normal selama 4-5 jam naik kapal, tapi fakta yang terjadi adalah 6 jam di kapal terombang ambing masuk angin. Keadaan gelombang saat pergi lumayan tinggi karena pemandu kami mengatakan pada saat brief sebelumnya bahwasanya BMKG kearah sana berwarna merah yang tandanya gelombang tinggi dan kami akan berasa seolah digoreng dalam lautan, begitu istilah yang penduduk Taka gunakan.

Kapal ini menuju ke Pulau Tinabo. Salah satu pulau yang memiliki resort di dalamnya yaitu Tinabo Dive Center. Untuk berkunjung ke sini memang harus memperhitungkan waktu. Waktu terbaik untuk berkunjung ke Takabonerate adalah dari April – Mei dan Agustus-November, tetapi orang lokal disana mengatakan musim paling bagus adalah bulan November. Tapi mengingat sekarang di Indonesia sudah terjadi anomali cuaca jadi sangat susah untuk membaca musim sekarang-sekarang ini.  Takabonerate, Surga di Atol Terbesar Ketiga Dunia, a place to remember.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

Comments

comments