Tanjung Aan, Saksi Bisu Kisah Cinta Sang Puteri Mandalika

Tanjung Aan, Saksi Bisu Kisah Cinta Sang Puteri Mandalika – by Arum Silviani

Setelah sebelumnya Pantai Pink Lombok, Perpaduan Cantik antara Laut, Gunung, Bukit, dan Langit menghiasi hari pertama saya dan sahabat inindonesiaku.com di Lombok, kali ini kami berkesempatan mampir ke Tanjung Aan.  Tanjung Aan yang terletak di Desa Kuta Lombok, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Pantai ini berjarak kurang lebih 75 kilometer dari kota Mataram. Atau sekitar 1,5 jam jika ditempuh dengan kendaraan roda dua atau roda empat melewati rute Mataram-Cakranegara-Kediri, Praya-Batunyale-Sengkol-Rambitan-Sade-Kuta, dan Tanjung Aan.

Sebagai informasi, dari kota Mataram jalan yang kami lalui tergolong mulus dan nyaman untuk dilewati.  Namun ketika mendekati kawasan pantai, kondisi jalan menjadi aspal berbatu dan bolong disana sini sehingga diperlukan kehati-hatian serta toleransi antar pengguna jalan.  Kondisi jalan yang tidak baik tak menghalangi wisatawan untuk berkunjung ke pantai ini.  Mobil yang kami naiki seringkali berpapasan dengan wisatawan mancanegara yang mengendarai sepeda motor dengan papan surfing di samping atau belakang motornya.  Membuat saya tidak sabar ingin cepat sampai tujuan, membayangkan seperti apa rupa Tanjung Aan dengan letak yang terpencil justru dapat memikat hati wisatawan.

Saat kami sampai, banyak wisatawan yang telah menikmati pantai ini, berenang, snorkeling, ataupun hanya sekedar duduk di tempian pantai sembari menikmati es kelapa muda.  Tak sabar ikut bergabung menikmati pantai, saya pun berlari ke tepian pantai agar pemandangan keseluruhan pantai dapat terlihat.  Tak perlu menunggu lama untuk menemukan keunikan pantai ini, Tanjung Aan ini memiliki pasir yang tidak biasa berbentuk bulat-bulat seperti merica.  Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya menemukan pasir pantai jenis ini.

Pantai Tanjung Aan membentang luas dengan garis pantai sekitar 2 kilometer. Pantainya terpisahkan oleh satu bukit yang tak terlalu tinggi, hingga kita bisa mendakinya dengan mudah. Di sebelah kanan bukit terhampar pantai dengan bebatuan karang dan ombak yang sangat baik untuk surfing, sedangkan di sebelah kiri bukit terhampar pantai yang landai dan cocok untuk berenang atau sekedar snorkeling. Sekali lagi saya katakan, ombak di pantai ini tergolong aman bahkan untuk anak kecil sekalipun.

Tak lengkap rasanya jika kita menyusuri suatu tempat namun tidak menelisik asal-usulnya. Begitupula Tanjung Aan yang mempunyai cerita tersendiri. Konon, ada seorang puteri bernama Mandalika, melompat dari bukit di Tanjung Aan untuk menghindari kejaran seorang pangeran yang hendak mempersuntingnya.

Mitosnya, sang puteri ini bereinkarnasi menjadi Nyale, sejenis cacing laut yang hidup di Pantai Tanjung Aan. Namun cacing ini hanya muncul di waktu-waktu tertentu saja. Maka dari itu, setiap bulan Februari diadakan ritual spesial di Pantai Tanjung Aan. Ritual ini dinamakan Ritual Bau Nyale. Sebagai ritual khas setempat, upacara ini selalu menarik perhatian pengunjung baik domestik maupun mancanegara. Dari cerita inilah Pantai Tanjung Aan, Saksi Bisu Kisah Cinta Sang Puteri Mandalika.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

Comments

comments