Wayang Sada, Inspirasi Budaya dari Gunung Kidul Yogyakarta

Wayang Sada, Inspirasi Budaya dari Gunung Kidul Yogyakartaby Trisno

Fenomena perubahan iklim global dan kerusakan alam sudah sedemikian parahnya. Kemajuan jaman yang dicapai manusia dengan mengatasnamakan modernisasi cenderung bersifat eksploitatif sehingga tidak mempertimbangkan nasib generasi yang akan datang. Dari dasar kepedulian akan lingkungan dan sisi-sisi kemanusiaan, muncul gerakan-gerakan lingkungan yang menyuarakan perubahan untuk menuju kehidupan yang lebih baik yang pastinya perlu sahabat inindonesiaku.com ketahui. Go green  menjadi tema global untuk mengajak kembali kepada tatanan kehidupan yang ramah lingkungan. Beragam cara dilakukan diantaranya melalui  seni dan kebudayaan.

Indonesia sendiri, yang merupakan bangsa dengan anugerah kekayaan budaya yang sangat beragam, mengambil peran dalam gerakan dunia yang salah satunya melibatkan kesenian wayang. Hasil karya cipta manusia Indonesia menjadi warisan budaya luhur asli yang juga sudah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia pada tahun 2003 lalu.  Hal inilah yang melatarbelakangi lahirnya Wayang Sada, Inspirasi Budaya dari Gunung Kidul Yogyakarta.

Wayang Sada berasal dari bahasa Jawa yang berarti wayang lidi, karena terbuat dari lidi muda yang dianyam sedemikian rupa sehingga membentuk sosok wayang yang berkarakter, memiliki sifat-sifat kemanusiaan yang penuh keteladanan. Karakter dalam Wayang Sada mengacu pada figur-figur dalam pewayangan  kisah Mahabarata dan Ramayana. Wayang Sada merupakan wayang kreasi yang mengusung tema art and green sebagai karya seni ramah lingkungan. Selain dibuat dari bahan-bahan alam, wayang sada juga mencoba mengangkat tema-tema lingkungan dalam lakon pementasannya.

Perajin Wayang Sada

Wayang Sada terinspirasi dari kenangan masa kecil pribadi Bapak Marsono. Dikala menggembalakan kambing dan kerbau di kampung halamannya dusun Gunungbang, desa Bejiharjo, kecamatan Karangmojo, kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pernah pada sekali waktu, beliau dan teman-teman sebaya bermain wayang yang terbuat dari rumput. Sebuah permainan yang sangat populer dikalangan anak-anak desa dimasa itu. Permainan yang sangat ramah lingkungan dan menyenangkan. Melatih imajinasi dan kreativitas tinggi. Dalam perkembangannya, wayang rumput bermetamorfosis, menyatukan unsur-unsur lain dalam menghargai alam, sehingga terbentuklah Wayang Sada. Wayang yang unik dan ramah lingkungan.

Wayang Sada berkembang dari komunitas kecil yang kini juga dikenal dunia. Wayang Sada, adalah bagian dari surga budaya yang sekarang telah menjadi desa wisata andalan Gunung Kidul dan Yogyakarta. Wayang Sada, Inspirasi Budaya dari Gunung Kidul Yogyakarta, benar-benar A Place to remember.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

Comments

comments

Comments are closed.