Wisata Sumba, Tradisi Unik Menguburkan Mayat di Desa Rende

Wisata Sumba, Tradisi Unik Menguburkan Mayat di Desa Rende

Setelah menerima kejutan dari Pantai Tarimbang di hari ke empat, hari ke lima di Waingapu, kami checkout dari hotel dan menuju ke kampung adat raja Priliu. Kami disambut dengan hangat di kampung itu. Kain kain khas Sumba Timur Waingapu bisa ditemukan di kampung ini. Teman-teman saling mencoba kain dan menawar harga kain untuk dibeli. Jika kita ingin memakai kain adat untuk berfoto mereka memungut biaya sekitar 25.000 rupiah. Beberapa dari teman saya menyewa pakaian adat itu untuk berfoto. Saya dan adik saya hanya membeli 3 buah syal kecil yang harganya cukup mahal, 200.000 rupiah setelah berhasil menawar. Saya lebih menikmati berbincang dengan warga setempat mengenai kampung adat tersebut dan bertanya tentang prosesi penguburan mayat di desa itu. Ternyata setiap daerah memiliki cara penguburan yang berbeda, yang sama hanyalah di setiap rumah ditemukan kuburan besar terletak di halaman rumah mereka.

Kampung Adat Raja Priliu

Kain Khas Sumba

Selesai mencoba kain, membeli dan mengobrol dengan warga setempat, kami berangkat menuju bukit persaudaraan Mau Hau. Kata orang-orang bukit ini merupakan spot terbaik untuk melihat pemandangan kota Waingapu. Letaknya sangat dekat dengan Bandara. Kami memilih bukit ini sebagai tempat terakhir bersama rombongan karena letaknya yang dekat dengan bandara. Di atas bukit, kita bisa melihat pemandangan sawah, dan perbukitan yang hijau (bukit berwarna coklat pada musim kemarau). Selain itu, tempat ini juga tempat terbaik untuk menikmati matahari terbit dan terbenam. Setelah bukit persaudaraan waktunya untuk berpisah dengan teman-teman.

Bukit Persaudaraan Mau Hau

Pemandangan dari Bukit Persaudaraan Mau Hau

Waktunya untuk berpisah, saya dan teman-teman. Saya dan adik saya masih akan meng-explore Waingapu hingga esok hari. Sedangkan teman-teman yang lain harus kembali ke asal mereka masing-masing. Setelah mengantarkan mereka ke bandara, saya dan adik menuju ke hotel yang letaknya di dekat kota. Harga hotel hanya 200.000 dengan sarapan pagi. Sebelum menuju hotel Elvin, saya bertemu dengan seorang bapak yang bersedia menyewakan motornya dan bersedia mengantarkan kami berkeliling Waingapu. Setelah check-in dan menitipkan tas, meluncurlah kami menuju Wisata Sumba, Tradisi Unik Menguburkan Mayat di Desa Rende.

Sepeda motor melaju kencang diantara jalanan yang lenggang. Sesekali berpapasan dengan, kuda, sapi, bebek, dan kambing di pinggir jalan. Saat motor melaju menuju Rende, cuaca sudah mulai mendung. Kami was-was karena tidak ada persiapan jas hujan waktu itu. Benar saja, setelah menempuh perjalanan sejam, hujanpun turun dengan lebatnya. Kami berteduh di warung orang selama 30 menit. Desa adat Rende berada di kecamatan Melolo, ditempuh 1 jam 30 menit dari pusat kota Waingapu. Seluas mata memandang, perjalanan kami disuguhi hamparan bukit-bukit, savanna, kuda-kuda berlarian dan senja yang lagi-lagi mebuat mata ini sejuk.  Rende merupakan desa yang masih mempertahankan adat istiadat. Warga disana memeluk agama leluhur yang dikenal dengan Merapu. Meskipun warga Rende sudah memeluk agama, namun mereka tetap menjalankan tradisi Merapu (kepercayaan).

Jalan Menuju Desa Rende

Desa Rende

Sesampainya di Rende, kami dipersilakan untuk duduk dan mengisi buku tamu. Disana, kami bertemu dengan Rambu Intan. Beliau sangat bersahaja, penuh kehangatan menyambut kedatangan kami. Rambu Intan, menceritakan sejarah dari desa Rende, cara menenun, bahan-bahan yang dipakai untuk proses menenun yakni dari bahan tradisional. Warna kain tersebut berasal dari tanaman seperti akar mengkudu, tanaman indigo dll. Harga kain tenunan Rambu Intan berkisar antara dua ratus ribu hingga puluhan juta. Harganya tergolong mahal namun sepadan dengan proses pembuatannya yang lama, bahkan sampai tahunan.

Rambu Intan, memperlihatkan kain tenunannya dan beliau mempersilakan kami untuk mencoba pakaian adat mereka tanpa dipungut biaya, heheee… senangnya kami karena dapat gratis. Kami berjalan ke halaman dengan pakaian adat. Kami menuju ketempat perkuburan yang dibuat dari batu dan perkuburan itu berdiri di halaman rumah. Seramm? Iya, cukup menyeramkan apalagi waktu kami berkunjung, ada warga yang meninggal dan mayatnya masih disimpan, diawetkan di dalam rumah. Dari cerita Rambu Intan, bahwa orang yang meninggal tersebut tidak lekas dikubur. Mereka akan dikubur jika keluarga yang telah ditinggalkan tersebut memiliki beberapa kerbau atau sapi untuk dipersembahkan dan disembelih. Selain itu tubuh yang telah meninggal tersebut akan diawetkan dan posisi mayat ditempatkan dalam posisi duduk yang kemudian dibalut dengan kain tenunan. Setelah siap dikubur, mayat tersebut tetap diletakkan di dalam tempat kuburan batu yang sangat besar dalam keadaan duduk, keadaan kita seperti di dalam kandungan. Jadi, tradisi adat desa Rende untuk orang yang lahir dan meninggal akan sama posisinya.

Bersama Rambu Intan

Kuburan Batu Desa Rende

Karena hari sudah mulai gelap dan mendung semakin tebal, maka kami mengakhiri hari itu di Desa Rende dan memutuskan untuk kembali ke Waingapu. Yup… lagi lagi kami melaju ke Waingapu dengan kecepatan penuh di tengah jalanan yang sepi. Hujan kembali mengguyur kami, dan berhenti sejenak di pinggir jalan. Kami melihat rumah yang belum sepenuhnya jadi dan disanalah kami berteduh bersama teman-teman yang juga menjauh dari hujan. Karena terlalu lama menunggu hujan, akhirnya saya dan adik saya sampai di penginapan sekitar pukul 7 malam.  Wisata Sumba, Tradisi Unik Menguburkan Mayat di Desa Rende a place to remember.

by Novi Ani

Incoming search terms:

  • Desa rende

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

Comments

comments